Artikel

Putus Kerja: Sama Patah Hatinya dengan Putus Cinta

Sumber: Google

Perpisahan mendatangkan berbagai perasaan. Sedih, amarah, haru, bahkan bahagia, bercampur aduk menjadi satu. Perusahaan tak luput dari perpisahan, baik pegawai yang memutuskan untuk keluar maupun dipecat oleh atasan. Bisa saja, pegawai tersebut berpikir bahwa itu adalah keputusan yang tepat, karena tak kunjung mendapatkan promosi atau kenaikan gaji, akhirnya putus kerja menjadi jalan keluarnya. Seperti hasil yang ditemukan dari Survei Firma Konsultasi Sumber Daya Manusia (SDM) Mercer Indonesia. Lalu, mengapa seakan-akan ada bagian yang hilang di dalam diri sejak melepas hubungan dengan perusahaan itu? Selayaknya putus cinta! Apalagi, kalau sudah berada di perusahaan itu selama bertahun-tahun, melebihi usia pasangan nikah.

Percayalah, itu merupakan sesuatu yang normal, kok, Jobhuners. Berduka itu wajar saat meninggalkan tempat kerja yang dicintai, kata Kim Scott, pengarang Radical Candor. Meskipun dilakukan demi keadaan yang lebih baik, perubahan tetaplah sulit. Sama halnya dengan putus cinta. Menurut Psychology Today, pertimbangan komitmen untuk pasangan romantis dan perusahaan atau organisasi dilandasi oleh faktor yang sama, lho. Ketiga faktor itu adalah:

1. Kepuasan

Merepresentasikan apakah seseorang mendapatkan hal-hal yang ia butuhkan dari hubungan tersebut. Dalam hubungan dengan perusahaan, seseorang akan merasa puas apabila hasil kerja kerasnya dihargai dan diberi upah yang setimpal.

2. Investasi

Merepresentasikan seberapa banyak waktu, energi, dan uang yang disisihkan oleh seseorang dalam hubungan. Bisa saja, seseorang merasa sayang untuk meninggalkan perusahaan hanya karena ia telah bekerja di sana selama bertahun-tahun. Itu salah satu bentuk investasi.

3. Kualitas alternatif

Merepresentasikan apa saja yang akan didapatkan oleh seseorang jika mereka nggak ada di hubungan tersebut. Inilah yang paling memungkinkan untuk memicu seseorang untuk meninggalkan suatu perusahaan karena perusahaan lain memiliki tawaran yang lebih baik.

Namun, tetap saja, setelah nggak lagi bekerja di sana, masih terselip rasa-rasa gamon atau gagal move on. Kalau begitu, apa yang bisa dilakukan? Tenang, langkah-langkah ini tersedia untuk membantumu menyambut hari yang baru:

  1. Bersedihlah secukupnya. Terima kenyataan bahwa kamu merasa sedih karena telah berpisah dengan kolega, atasan, dan orang-orang di perusahaan serta rutinitas yang kamu sempat kamu jalani.
  2. Buat list pros dan cons. Tulis keuntungan dan kerugian dari meninggalkan pekerjaanmu untuk memulai posisi baru. It will help you to put it all behind.
  3. Mulai dari checkpoint. Setelah merelakan semuanya, bukan berarti kamu mulai dari nol. Pengalaman yang kamu dapatkan dari tempat kerjamu dulu akan dikembangkan di kesempatan berikutnya.

Buat Jobhuners yang masih rindu dengan pekerjaan lamanya gara-gara putus kerja, semangat, ya! Kesempatan yang sama pasti akan datang, di mana pun kamu berada.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *