cara membangun startup
Artikel,Berita

Cara Membangun Startup Bersama Ifandi Khainur dari Satu Persen

Saat ini keberadaan startup atau perusahaan rintisan bukan merupakan hal yang baru. Sebagai sebuah perusahaan masa kini, startup dianggap memiliki lingkungan kerja yang cocok dengan karakter generasi z dan milenial, lho. Pada Selasa, 29 Maret 2021 lalu Jobhun mengadakan Internal Mentoring #1 berjudul “How to Build a Startup” bersama CEO & Founder Satu Persen, Ifandi Khainur, yang biasa disapa Evan, khusus untuk para pemagang di Jobhun. Evan membagikan pandangannya mengenai apa itu startup serta tips dan strategi dalam membangun sebuah perusahaan rintisan. Buat kamu yang penasaran, yuk simak 5 strategi yang bisa diterapkan dalam membangun sebuah startup company!

cara membangun startup
Mentoring cara membangun startup bersama Ifandi Khainur

Menentukan goal (Tujuan) di awal

Banyak orang ingin membangun startup gara-gara berpikir bisa menghasilkan pendapatan yang besar atau jadi bos. Tapi mereka seringkali lupa soal goal atau tujuan dalam membangun startup atau menciptakan sebuah produk itu sendiri. Padahal, goal jadi hal yang fundamental untuk kelanjutan sebuah startup company. Tujuan yang paling baik dalam membangun startup adalah untuk mengatasi masalah yang berasal dari diri sendiri (internal). Kalau tujuannya adalah solve a problem yang berguna untuk diri kita, tentu akan menjadi motivasi tersendiri.

Menjadi problem solver untuk sekitar

Kalau kamu tertarik untuk memiliki startup yang berkembang dan berpotensi menjadi unicorn atau decacorn, kamu perlu menciptakan sebuah produk yang dibutuhkan banyak orang. Melalui produkmu, kamu juga harus bisa membuat orang-orang berpikir, “Kalau nggak ada X lagi, bakal susah sih…”. Contohnya beberapa startup yang sudah ada saat ini, seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan lain sebagainya. Perusahaan-perusahaan tersebut telah mampu menciptakan produk yang jika produk tersebut nggak ada lagi, maka akan membuat banyak orang susah, ribet, hingga kehilangan pekerjaan. Jadi, untuk membangun startup besar, maka harus menciptakan produk yang bisa menjawab permasalahan dan berpotensi menjadi kebutuhan banyak orang.

Membuat MVP (Minimum Viable Product) yang dapat menjelaskan produk

Produk adalah keniscayaan untuk sebuah startup. Tapi, untuk menciptakan sebuah produk merupakan hal yang challenging bagi banyak perusahaan rintisan. Keterbatasan biaya dalah salah salah satu masalah yang sering dialami oleh startup. Nah, MVP adalah produk yang diciptakan dari biaya yang seminimal mungkin tapi masih memiliki fungsi tertentu. MVP ini berfungsi untuk menguji apakah sebuah produk bagus dan dibutuhkan orang atau nggak. Kalau MVP yang kita punya ternyata susah dieksekusi, Evan menyarankan untuk segera hire Co-Founder.

Menggandeng Co-Founder sebagai partner

Di awal pembentukan startup, biasanya Co-Founder nggak diberi gaji melainkan kepemilikan perusahaan (saham). Jadi sebaiknya cari Co-Founder yang bisa dipercaya dan mau berkontribusi besar untuk perusahaan. Tips dan trik dalam memilih Co-Founder, salah satunya memahami istilah ‘Fuck Yes’, karena ini menentukan kelanjutan perusahaan. Salah satu cara untuk menguji faktor ‘Fuck Yes’ sebagai CEO kepada Co-Founder adalah dengan mempertanyakan pada diri sendiri “Apa gue rela ngebagi 50% perusahaan gue ke orang ini?” Kalau jawabannya enggak, sebaiknya cari kandidat Co-Founder lain.

Selain itu, jika memilih memulai startup dengan Co-Founder, Evan menyarankan “Sebaiknya menggunakan perjanjian supaya ada komitmen dari berbagai pihak. Perjanjian ini biasanya memuat tentang pembagian pendapatan dan minimal jangka waktu bertahan di perusahaan.”.

Memahami culture pada startup

Jika startup mulai memiliki penghasilan, maka biasanya diperlukan orang yang lebih banyak untuk di-hire sebagai karyawan. Dengan meningkatnya jumlah karyawan, pimpinan perusahaan perlu menentukan culture work seperti apa di lingkungan perusahaan sehingga dapat menciptakan sebuah culture deck. Culture deck ini bisa berasal dari berbagai hal yang sesuai dengan budaya kerja, seperti apa yang ingin diterapkan di lingkungan perusahaan. Culture deck ini biasanya memuat tentang berbagai value atau prinsip yang diterapkan perusahaan pada para karyawannya.

Nah, itu tadi beberapa strategi yang bisa kamu terapkan dalam proses membangun sebuah startup. Gimana? Sudah kebayang gimana jadinya produk dan startup impianmu nantinya? Semangat ya, Jobhuners!

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *